Beranda > Filsafah Hidup > >Ahir Kisah Cinta Sang Pecundang Sejati

>Ahir Kisah Cinta Sang Pecundang Sejati

>

Pesan singkat itu menyapa kerinduanku pada sosok dirimu yang tegas dan lembut, aliran kasih sayang itu kembali terbayang dari hatiku. Dindaku…. Sosok wanita tangguh dengan imannya yang telah mampu kugetarkan dinding dinding hatinya lewat sejumput cinta yang ku persembahkan untuknya, dia yang dulu mengajarkan aku bahwa jika mencintai seseorang harus dengan membuka kedua mata kita karna sesungguhnya cinta itu bukanlah hayalan yang hadir di hati para pencinta saat ia memejamkan mata tapi melainkan cinta itu harus dilihat dengan mata terbuka karna dengan itu cinta yang kita jalani harus mampu melihat orang di sekeliling cinta itu berada karna cinta itu adalah realistis dia tidak cukup dengan khayalan-khayalan belaka. Bercintalah dibawah teriknya mentari bukan hanya dibawah lembutnya sinar rembulan, karna jika bercinta dibawah rembulan cahaya lembutnya akan menghanyutkan kita dalam tidur lelap dengan sejuta mimpi yang membuat kita tak berdaya.
Malam itu kau mengajakku bertemu dipojok sekolah dimana dulu kau menimba ilmu.. sekolah yang tak jauh dari rumahku juga rumahmu, tempat itu sangat cocok sebagai arena pertemuan kedua belahan jiwa yang rentang jaraknya sama sebuah titik pertemuan yang adil untuk kita.
Tak lama setelah mendapat pesan singkat darimu, tak sabar rasanya ingin segera mengobati sekujur rindu yang membanjiri palung hatiku, saat itu aku tak peduli apa yang akan terucap dari bibir-bibir yang mungkin saat ini sudah kaku karna sudah cukup lama tak melafalkan alunan-alunan lagu kerinduan secara langsung dihadapanmu, gelisah itu tak aku pedulikan, yang aku tau… bahwa rindu ini akan segera terobati…
Tak lama sampai juga ku di titik pertemuan kita namun suasana itu mengingatkanku pada sebuah lagu yang dilantuntan oleh penyanyi senior Almarhum Crisye.. “Malu-aku malu pada semut merah… yang berbaris di dinding… menatap ku curiga, sedang apa disini…. Menanti pacar jawabku…”
Yach… walaupun saat ini hubungan kami tidak menyandang setatus sebagai seorang pacar, melalinkan orang-orang yang pasrah pada keadaan, kami menyerah merajut pintalan-pintalan benang kusut dari hubungan kami.
Satu jam aku berdiam dalam sepi, dipojok warung-warung yang berjejer di belakang sekolahnya dulu itu, gerimis itu mencoba menguji kesetiaanku untuk menunggu.. sunyi.. sedup dan bimbang…
Menunggu adalah kata azimat yang ku titipkan di hatimu untuk kau jaga untukkku, karna kata itu adalah kata terahir yang terucap dari hubungan kita dulu… karna kata menunggu adalah satu-satunya kata yang akan menyelamatkan hubungan kita untuk bersatu.
Yach.. kenapa tidak !!! aku harus menunggumu pulang kerja hingga satu jam, kau menyuruhku menunggumu jam sembilan malam, dan ahirnya engkau pulang hingga jam 10 malam, bujuk kata-katamu membuatku bertahan untuk menunggumu.. hingga rindu itu beku oleh dinginnya malam.. tapi aku tak kesal jika aku harus menunggumu hingga semalamanpun, karna ku tau kau pasti akan datang, dan aku tau satu jam bukanlah waktu yang lama untuk menunggu.. karna 4 tahun itu lebih lama dari satu jam, waktu 4 tahun adalah uluran tali yang kita bentangkan yang harus kita gilas dengan penantian agar kita bersatu kembali bertemu di sebuah titik pernikahan kita kelak. Itu impian termanis yang pernah kita ikrarkan dulu.
Satu jam itupun tiba, kau datang dengan ke erotisan senyummu yang dulu sering aku lihat, semagat-semangat hidup yang terpancar dari wajahmu mampu aku rasakan, keteguhan pendirianmu terukir jelas lewat kata-kata singkatmu… dan manjamu itu memeluk hatiku lagi…
Aku timpali senyum hangatmu dengan sapaan sederhanaku.. saat itu seakan terasa ada tembok penghalang di depan kita, tak banyak kata yang terucap… karna malam tak mengingikan kita untuk berlama-lama disudut tembok itu..
“kanda… dulu kanda pernah berkata, bahwa siapa yang lebih dahulu menikah itu adalah penghianat dari cinta kita, dan saat ini dinda datang untuk mengikrarkan diri sebagai seorang penghianat cinta kita” kata itu terucap dari bibirmu sebelum dahaga kerinduanku habis tersirami oleh mu.
Bibir ku mulai kelu.. seakan jarum jam berhenti berdetak saat itu, aku tak kuasa memekikkan lagu kehancuran, hatiku tak kuasa meronta dari jeratan kata-katamu yang mengikatku terlalu kuat, dan aku hanya bisa tersenyum kecewa… dan membuat lelucon seakan aku tak pernah mendengar apa yang kau ucapkan tadi, aku ingin menjadi orang yang tegar di hadapanmu.. orang yang selalu berbesar hati dan bijak menyikapi masalah… dewasa dalam segala hal, namun kau tau aku rapuh saat itu…..
Siapa orang yang akan menjadikanmu bidadari di Altar nanti.. ternyata adalah orang yang dulu ku tunjukkan untukmu untuk kau ketuk pintu hatinya lagi setelah istana cinta yang kita bangun kala itu telah runtuh… yach… orang yang dulu pernah kau tinggalkan karna hatimu lebih memilih sang pecundang sejati sepertiku..
Waktu yang tak lama namun meninggalkan sejarah yang panjang dari kehidupanku… kaupun pergi dengan langkah penuh keyakinan.. meninggalkan sang pecundang yang kini sedang meradang di sulut sembilu penyesalan…
“ANDAIKAN SAJA…” kata mimpi itu adalah satu-satunya sisa dari perjalanan kisah cinta yang selama ini pernah kita lakoni, yang harus ku bawa pulang dan ku kutip diatas kertas ini.. untuk aku jadikan coretan baru dari sejarah kehidupanku… “andaikan saja kita bisa mengulang waktu, mungkin kesalahan itu tidak akan terjdi, tapi sudahlah… sungguh indah recana kita, tapi sungguh rencana Allah itu jauh lebih indah..”
Inilah ahir dari perjalanan cinta kita.. end of we love story…..
********* Tinggalkan aku karna aku mencintaimu *********
Kategori:Filsafah Hidup
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: